Dalam kesempatan penerimaan hasil belajar siswa-siswi MI Plus Qiraati IQBAL semester 1 tahun ajaran 20222/2023, saya diberikan kesempatan menyampaikan sepatah kata didepan wali murid kelas 2A yang menurut saya adalah orang-orang yang cukup “Top”, dan senior. Saya perlu persiapan beberapa hari dengan menuliskan isi sambutan, biar ndak ngglambyar, dan tentu biar ndak tambah ndredek.
Ada satu hal yang saya ikut sertakan dalam penyampaian di kelas. Tentang sosok “idola” yang berperan urgent dalam kehidupan sang anak. hal ini saya dasarkan pada sebuah tulisan opini dari Mbak Liya Afifatul Muawanah yang kolaborasi dengan Bu Kaprodi PIAUD. Gagasan yang ia buat adalah tentang bagaimana usia anak menjadi usia yang membutuhkan sosok idola. Dan sosok yang perlu diidolakan bagi anak adalah orang tuanya.
Dari gagasan ini saya terkonek dengan beberapa kisah ulama’-ulama’ kajen. Beliau mbah Sahal Mahfudz, pendiri IPMAFA, kampus berbasis pesantren, juga sosok dibalik pendirian Bank Arta Huda yang di awal-awal menuai kontrofersi, juga pendiri RSI Pati, ang menjadi rumahsakit cukup populer di Pati dan sekitarnya. Saya teringat bahwasannya beliau merupakan tokoh pemikir islam reformis, seperti ayahandanya, Kyai Mahfudz Salam. Ayahandanya yang menjadi sosok nasionalis namun dan merangkul rakyat yang pada saat itu dikekang oleh peraturan belanda. Kyai Mahfudz menentang penindasan yang dilakukan kolonial terhadap warga pedagang pasar daerah tersebut. Hingga akhirnya beliau dikejar hingga diasingkan di Ambarawa, dan beliau wafat disana. Sosok Kyai Mahfudz Salam, ayahandanya menjadi sosok idola bagi Kyai Sahal Mahfudz atas pemikiran-pemikiran yang dibuat beliau.
Dalam beberapa keterangan memang banyak sekali memberikan gambaran tentang betapa urgentnya posisi ayah ibu bagi seorang anak. dalam madzhad Behaviour psikologi menjlaskan bahwa kebiasaan seseorang akan terbentuk menjadi sebuah karakter. Dan kebiasaan keluarga akan tertanam kepada sang anak. hal ini seperti tertera dalam slogan adagium “Buah jatuh tak Jauh dari pohonnya”, walaupun sudah kuno dan banyak dikritik, namun adagium ini tetap relavan dengan kehidupan manusia.
Puthut EA menceritakan kisah-kisah kecil yang lalui putranya, Kali. Dalam buku “Dunia Kali” ia menceritakan bagaimana Kali tumbuh dan menulis kejadian-kejadian yang dirasa menggelikan, hal yang menjadi sebuah event penting, dan keberasamaan keduanya yang random. Saya menangkap dalam tulisan ayah kali bahwa betapa Kali yang masih berusia kanak-kanak sudah mengidolakan bapaknya. Ia mulai penasaran dengan profesi menulis sang ayah. Kali mencoba mengamati dan mengomentari pekerjaan ayahnya itu. Dalam satu tulisan ini menceritakan Kali yang bercita-cita seperti ayahnya.
Cukup seru, bukan ?
Hal ini tercipta karena sosok Puthut EA dapat menjadi sosok ayah yang diidolakan anaknya, Kali. Yang patut menjadi sosok idola bagi anak bukanlah pemain sinetron, atau karakter game, game PUBG dll. Tetapi yang patut menjadi Idoa bagi seorang anak adalah Orang Tuanya, karena merekalah yang paling dekat dengan anak.
Tulakan, 20 Des. 22








